Psikologi dan Perannya untuk Pemimpin Saat Krisis

Para pemimpin di dunia saat ini menghadapi tantangan yang sangat tidak mudah karena pandemi.

Terkadang mereka merindukan kondisi yang stabil di masa lalu dan juga suasana yang lebih baik di masa yang akan datang.

Namun, apakah benar bahwa hal itu akan menolong mereka?

Sebuah tulisan di Forbes oleh Doktor Mirella De Civita menerangkan mengenai psikologi kepemimpinan dan apa maknanya bagi para pemimpin untuk menolong mereka melewati krisis.

Langsung saja kita simak uraian Doktor Mirella sebagai berikut ini:

Dua tahun dalam Peran Peloponnesian yang dimulai pada tahun 431 sebelum Masehi, sebuah wabah merebak di Athena.

Pada periode tersebut, seorang negarawan dari Athena bernama Pericles menjadi salah seorang yang sangat berpengaruh bagi warga Athena.

Ketimbang menolak hak warga untuk marah, putus asa, dan takut, Pericles menemui mereka di tempat mereka berada.

Dia menyadari keinginan sebenarnya dari tiap orang, yaitu saat dia memperdulikan keselamatan diri warga. Kemudian di saat yang sama dia juga memfokuskan perhatiannya kepada keseluruhan masyarakat.

Ketika saya merefleksikan peristiwa ini dan pandemi yang sedang terjadi, saya kemudian bertanya-tanya apa yang mempengaruhi pemimpin saat ini untuk menjadi seorang pemimpin yang berbeda, seperti halnya Pericles?

Pada saat itu, Pericles menemui mereka di lokasi mereka berada.

Menurut saya, seorang pemimpin akan mendapat keuntungan dari pengetahuan, bahwa sebenarnya perhatiannya selalu terganggu oleh berbagai distraksi dari luar dan juga berbagai dinamika dalam dirinya sendiri. Contohnya adalah distraksi dan dinamika karena pandemi COVID-19 yang sedang sama-sama kita hadapi.   

Dari manapun asal distraksi atau gangguan itu, otak kita mengartikan pengalaman tersebut sebagai sebuah ancaman.

Menurut David Eagleman seorang penulis buku berjudul ‘Livewired: The Inside Story of the Ever-Changing Brain’, disebutkan bahwa secara instan otak mendeteksi ancaman.

Deteksi ini kemudian akan menstimulasi sistem neurotransmitter.

Stimulasi itu terjadi tanpa mempedulikan apakah ancaman tersebut berasal dari hal-hal yang kita katakan kepada diri sendiri, misalnya “Tuhan mungkin dunia akan berakhir!”

Atau di sisi lain, ancaman itu bisa berasal dari lima panca indera, seperti ketika kita menghadapi beruang kelabu.

Ketika kita dipicu oleh ancaman semacam itu, secara otomatis otak kita kemudian akan memerintahkan untuk melakukan mode perlindungan diri.

Metode yang dipilih bisa dilakukan dengan berdiam diri, menghindari seolah-olah hal itu akan pergi sendiri, melawan, balik kanan, atau mungkin menyerah.

Namun, ternyata kita sebenarnya tidak dapat memilih tingkah laku tersebut, karena tubuh kita bereaksi terhadap pemicu secara cara otomatis atau berdasarkan insting.

Menurut Paul Gilbert, penulis dari ‘The Compassionate Mind’, ditemukan bahwa kendati capaian manusia saat ini telah sangat luar biasa, misalnya dengan berbagai teknologi, ternyata kita masih memiliki struktur yang sama dengan orang-orang Athena pada saat mereka menghadapi wabah.

Menurut berbagai penelitian, bagian otak depan atau prefrontal korteks memberikan kemampuan untuk mengartikan berbagai hal dan juga menciptakan simbol-simbol mental dan verbal dari diri kita berdasarkan pengalaman.

Saat itu warga Athena khawatir pengaruh wabah akan mengurangi kemungkinan mereka memenangkan perang.

Sementara saat ini, kita juga membayangkan berbagai hal yang akan terjadi pada diri kita dengan menciptakan bermacam kemungkinan atau skenario di masa depan.

Kedua kondisi itu menunjukkan bahwa kita memikirkan bagaimana cara kita berpikir.

Kemudian efek yang terjadi adalah ketika sistem yang mendeteksi ancaman melakukan pekerjaannya untuk memberikan peringatan terhadap kemungkinan ancaman, maka otak kita yang sibuk berpikir akan menghindar secepat mungkin karena berbagai peristiwa yang kita imajinasikan.

Kemudian karena imajinasi dan skenario itu, kita tidak hidup lagi di saat ini.

Kita memasuki sebuah periode yang penuh dengan pertanyaan atau skenario: bagaimana jika. Skenario itu berlaku ke belakang untuk mempertimbangkan apa yang dapat kita lakukan secara berbeda atau ke depan untuk mempertimbangkan berbagai hal yang mungkin kita lakukan. Semua itu menjadi beban pikiran kita.

Kemudian di dunia nyata kita mungkin akan menemukan diri kita tidak lagi menjadi seorang pemimpin yang kita inginkan, karena membuat pilihan-pilihan dan keputusan yang didasarkan pada pikiran kita semata.

Belajar untuk Melatih Otak Kita agar Kembali kepada Situasi Saat Ini


Sangat tepat kiranya jika kita mengambil kesimpulan, bahwa otak kita lari dari kapasitasnya untuk bertindak sebagai seorang pemimpin yang kita inginkan. Terutama apabila otak tersebut bereaksi terhadap ancaman.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita dapat melatih otak kita kembali ke peristiwa atau suasana saat ini dan pada saat yang sama terus menghadapi kondisi eksternal yang sulit? Berdasarkan pengalaman dari pekerjaan sebagai seorang psychotherapy yang pernah saya lakukan bersama dengan para pemimpin yang telah mengalami kelelahan karena gelisah. Kemudian juga berdasarkan penelitian empiris yang menunjukkan dampak positif dari meditasi untuk menenangkan pikiran, maka saya percaya, bahwa satu hal yang bisa dilakukan untuk memulai latihan itu adalah dengan mengetahui kemana perhatian kita terarah.

Berdasarkan penelitian, kita tahu bahwa ke arah mana perginya pikiran akan berdampak besar pada perasaan kita. Terutama jika dibandingkan dengan pengaruh aktivitas atau kesibukan yang sedang kita lakukan.

Ketika kita menyadari bahwa otak kita sedang berkelana, apakah itu ke masa lalu atau ke masa depan, maka itulah saatnya kita mempunyai pilihan untuk secara perlahan mengembalikan perhatian kita kepada hal-hal yang menurut kita paling penting.

Apa hal yang paling penting itu misalnya adalah mengerjakan proyek yang mendekati deadline. Hal itu juga mungkin bermanfaat untuk mengatasi perasaan kesendirian kita dengan mencari kelompok sosial yang dapat kita ikuti dengan bergabung di sana, meskipun secara virtual. Tindakan untuk mengembalikan perhatian kita pada saat ini juga diperkuat dengan terus-menerus berlatih untuk menyadari ke mana pikiran kita pergi.

Karena itu, pemimpin saat ini dapat menolong orang lain untuk memahami bagaimana mereka terganggu atau terdistraksi. Kemudian para pemimpin tersebut akan mengundang mereka untuk melakukan curah pendapat pada kebiasaan yang dapat dilatih sebagai sebuah kelompok.

Serta melakukan kegiatan itu bersamaan dengan ketika orang-orang mengerjakan proyek atau suatu pekerjaan tertentu.

Dengan mendorong setiap individu untuk memahami bahwa mereka mempunyai pilihan untuk terhubung pada suatu perilaku tertentu yang telah disetujui ketika pikiran mereka berkelana, maka para pemimpin saat ini menunjukkan perasaan kasih sayang ketimbang suatu penolakan. 

Penutup

Tidak ada keraguan bahwa pandemi yang kita hadapi telah menciptakan suatu tantangan baru di dunia kita.

Pertanyaannya adalah bukan apa yang yang perlu kita terima pada kenyataan baru tersebut, tetapi bagaimana kita menerima hal itu?

Tidak ada keuntungan yang nyata bisa kita dapatkan ketika pikiran kita berfokus pada masa depan hanya untuk menghindar dari peristiwa yang terjadi saat ini.

Hal yang sama pun terjadi, yaitu tidak ada keuntungan dari pikiran kita yang berkelana ke masa lalu.

Kedua pengalaman tersebut memiliki peluang untuk memicu sistem deteksi ancaman di otak kita, karena hidup di masa lalu atau berpura-pura di masa depan tidak akan membuat pandemi yang kita hadapi saat ini pergi.

Hal itu juga tidak akan menghilangkan berbagai gangguan yang tercipta karena pandemi kepada kita.

Bahkan, apa yang akan terjadi adalah kita akan merasakan emosi yang menyakitkan seperti kegelisahan, ketakutan, kesendirian, dan kemarahan.

Emosi-emosi tersebut kemudian juga akan semakin meningkat karena berbagai dialog, percakapan, dan dinamika yang ada dalam diri kita yang dipicu oleh sistem deteksi ancaman yang otak kita miliki.

Pemimpin yang membuat pilihan sadar untuk menolong diri sendiri dan anggota timnya akan memfokuskan perhatian mereka kepada apa yang benar-benar penting.

Pemimpin tersebut kemudian akan diingat karena keberanian mereka.


Para pemimpin itu juga akan dikenang bukan karena lari dari tantangan, tetapi karena mereka menghadapinya.

Kemudian mereka menemukan, bahwa para pemimpin tersebut dapat memilih untuk membawa pulang pikiran dan otak mereka ke masa sekarang sekali lagi dan lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepemimpinan Populis

Memimpin Diri Sendiri adalah Resep Kepemimpinan yang Paling Penting